Resensi
Novel Padang Ilalang Di Belakang Rumah

http://www.bukabuku.com/browses/product/9789794030394/padang-ilalang-di-belakang-rumah.html
1. Indetitas
Novel
Judul : Padang Ilalang Di Belakang
Rumah
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Pengarang : Nh. Dini
Tahun
Terbit : 2004
2. Kepengarangan
Nh. Dini lahir 29 Februari 1936 di Semarang. Setamat
SMA bagian sastra (1956), mengikuti Kursus Pramugari darat GIA Jakarta (1956),
dan terakhir mengikuti Kursus B-I Jurusan Sejarah (1957). Tahun 1957-60 bekerja
di GIA Kemayoran, Jakarta. Setelah menikah dengan Yves Coffin, berturut-turut
ia bermukim di Jepang, Perancis, Amerika Serikat, dan sejak 1980 menetap di
Jakarta dan Semarang. Karyanya: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada
Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Keberangkatan
(1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979),
Sekayu (1981), Amir Hamzah Pangeran dari Sberang (1981), Kuncup berseri (1982),
Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-orang Trans (1984), dan
Pertemuan Dua hati (1986).
3. Sinopsis
Dini hidup dalam keluaraga yang sangat
rukun dan berkecukupan. Dini adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Kakaknya
yang paling tua adalah Heratih, Nugroho, Maryam, dan yang terakhir adalah
Teguh. Pada saat penjajahan Jepang ini, Dini masih duduk di bangku SD. Rumah
orang tua Dini lumayan besar dan mempunyai halaman yang cukup luas di depan dan
di belakang rumah. Keluarga Dini juga kaya.
Sejak Jepang datang ke Indonesia, keadaan ekonomi keluarga Dini mengalami kemunduran. Hal ini menyebabkan kedua orang tuanya harus bekerja keras. Ibunya mulai membuat kue kering dan membatik untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu halaman yang cukup luas di depan dan belakang rumah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Halaman belakang dijadikan tempat untuk membuat kue dan membatik. Namun demikian, kehangatan dalam keluarga tetap terjalin. Belanda meninggalkan kota Dini. Rakyat merampok isi gedung yang bisa mereka buka. Kemudian Jepang masuk dan kota jatuh pada tangannya tanpa ada yang melawan. Jepang menyusun kembali kegiatan hidup penduduk. Tiba-tiba beberapa serdadu Jepang ada di belakang Rumah Dini dengan memotong ilalang di padang yang membatasi kebun dengan sungai milik Dini. Orang kampung bergegas menyaksikan para pendatang itu. Tanpa kesopanan sedikitpun serdadu Jepang itupun mematahkan bilah-bilah bambu serta tanaman yang menjadi pagar dan menuju ke tempat ayah Dini berdiri. Ayah Dini tidak ingin terlalu lama meladeni serdadu itu sehingga ia mengusirnya. Dalam suasana kemiskinan yang menyeluruh itu, Dini kecil tetap tumbuh dalam kasih sayang dan kearifan kedua orangtuanya, dipedulikan dua kakak perempuan yang bertindak sebagai pengasuhnya, dan bercampur bibit-bibit keegoisan dua pria remaja kakak lelakinya, kemudian ditambah kehadiran dua adik sepupu perempuan yang akan menjadi sahabatnya. Dirumah dini ada dua orang pembantu. Pembantu pertama namanya Simbok, seorang perempuan tua yang dianggap sebagai anggota keluarga sendiri. Yang kedua adalah seorang wanita muda dengan anak perempuannya. Kakak sulung Dini bernama Heratih yang biasa dipanggil Pah atau Tampah oleh adik-adiknya, yang kedua bernama Nugroho yang mendapat julukan Manu Pedet, yang ketiga bernama Maryam atau genuk, kenapa dipanggil genuk? Karena sewaktu kecil tubuhnya gemuk sekali dan Ibu teringat pada tempat menyimpan air yang mengembung. Dan yang keempat itu Teguh, nama julukannya adalah Banteng Kejepit. Karena Teguh pernah diramal dan lambangnya adalah seekor Banteng. Terlihat oleh Dini sebuah gambar pohon beringin dengan seekor Banteng kejepit. Kata peramal itu suatu ketika dalam hidupnya nanti Teguh akan menemui rintangan tapi karena kegigihannya dia bisa melepaskan diri dari rintangan itu. Dan anehnya ramalan itu benar terjadi, Teguh terjepit diantara cabang pohon belimbing ketika mengambil buah belimbing untuk rujak Bibinya. Sampai akhirnya dengan terpaksa agar Teguh bisa keluar, ayah dan paman memotong satu cabang pohon belimbing yang umurnya sama dengan Heratih itu. Sejak peristiwa itulah Teguh mendapat julukan banteng kejepit. Dini bersekolah di sekolah rakyat Pendrikan Tengah. Disamping sekolahnya terdapat gedung kecil yang bernama Eka Kapti. Disanalah Dini menerima pendidikan tari dan gending. Sedangkan Heratih selesai sekolah dan mendapat pekerjaan di kantor telepon dekat alun-alun. Setiap akhir bulan setelah menerima gaji masing-masing adiknya mendapat sepuluh sen berupa lempengan logam putih, yang makin lama menjadi uang kertas bertuliskan angka lebar dan besar. Dan Akirnya Heratih menikah dengan kepala kantor telepon di Kendal yang bernama Utono,8 atau Mas Ut. Ayah Dini bekerja di Stasiun Kereta Api. Gajinya semakin hari semakin tidak mencukupi kebutuhan. Perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga Dini tapi oleh semua orang di tanah air menderita. Keadaan dan sistem sosial berjalan bersama propaganda bahwa semua orang sama derajatnya. Demi membantu perekonomian keluarga akhirnya Ibu membatik dan menerima pesanan kue. Adik Ibu Dini yang bernama Iman suhjahri (Bibi) dan suaminya (Paman) pindah dari Jawa Timur ke Semarang. Paman bukan orang terkenal namun penjajah melakukan pengawasan dari dekat terhadap semua orang yang menjadi anggota perkumpulan nasional. Mereka mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya Edi Sedyawati dan Suci Astutiwati. Edi bisa dibilang adalah sepupu yang sangat akrab dan dekat hubungannya dengan Dini. Mereka sering menonton wayang orang bersama dari malam sampai pagi hari dan kemudian didalam kamar mereka menirukan serta mengulangi gerak tarian, percakapan dan bunyi gamelan tokoh wayang orang yang mereka tonton tadi malam. Suatu hari kepala kampung mendapat perintah dari orang-orang Jepang yang berkuasa, agar penduduk menyerahkan semua barang berharga yang mereka miliki. Patung-patung dan barang besi yang menjadi hiasan kota telah diambil tentara Jepang. Semua barang itu digunakan untuk dicairkan kembali dan dijadikan senapan atau senjata perang lainya. Dengan berat hati akhirnya Ibu Dini melepaskan peniti emas dari kebaya dan dua cincin untuk diserahkan pada tentara Jepang. Kemakmuran dan kebebasan yang diharapkan rakyat ketika ditinggal penjajah Belanda hanyalah janji belaka dan keprihatian kembali datang. Suatu malam penduduk kampung berlarian dan berteriak, dari arah kampung menuju ke Padang Ilalang dibelakang rumah Dini. Semua orang di dalam rumah Dini panik dan segera mengemasi barang berharga yang tersisa, pakaian, dan makanan untuk keperluan mengungsi. Tetapi setelah Ayah Dini mendapat informasi kalau banyak orang yang tetap tinggal dirumah, akhirnya keluarga Dini pun tidak jadi mengungsi. Pemberontakan itu terjadi di kalangan pemuda PETA terhadap pemerintah Jepang. Mereka berbalik melawan guru dan pendidiknya sendiri. Tentara dan polisi Jepang tidak membedakan pemberontak dengan penduduk biasa. Semua ornag yang lewat di jalanan dan yang dicurigai ditembak mati. Siutan peluru dari segala penjuru membuat Dini dan keluarga ketakutan. Cukup dengan sedikit nasib buruk siapapun akan bisa menjadi kurban tanpa pilih-pilih. Kemudian diumumkan di radio bahwa pemberontakan sudah dapat dipadamkan. Semua keluarga selamat dan mengis bahagia bersama. Tapi bulu kudu merinding ketika melihat sungai penuh bangkai manusia yang berbau busuk, jalanan penuh mobil dan kendaraan yang rusak serta terbakar. Dini tidak akan melupakan peristiwa itu seumur hidup. Namun kehidupan terus berlangsung. Seluruh keadaan menjadi tenang dan tentram.
Sejak Jepang datang ke Indonesia, keadaan ekonomi keluarga Dini mengalami kemunduran. Hal ini menyebabkan kedua orang tuanya harus bekerja keras. Ibunya mulai membuat kue kering dan membatik untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu halaman yang cukup luas di depan dan belakang rumah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Halaman belakang dijadikan tempat untuk membuat kue dan membatik. Namun demikian, kehangatan dalam keluarga tetap terjalin. Belanda meninggalkan kota Dini. Rakyat merampok isi gedung yang bisa mereka buka. Kemudian Jepang masuk dan kota jatuh pada tangannya tanpa ada yang melawan. Jepang menyusun kembali kegiatan hidup penduduk. Tiba-tiba beberapa serdadu Jepang ada di belakang Rumah Dini dengan memotong ilalang di padang yang membatasi kebun dengan sungai milik Dini. Orang kampung bergegas menyaksikan para pendatang itu. Tanpa kesopanan sedikitpun serdadu Jepang itupun mematahkan bilah-bilah bambu serta tanaman yang menjadi pagar dan menuju ke tempat ayah Dini berdiri. Ayah Dini tidak ingin terlalu lama meladeni serdadu itu sehingga ia mengusirnya. Dalam suasana kemiskinan yang menyeluruh itu, Dini kecil tetap tumbuh dalam kasih sayang dan kearifan kedua orangtuanya, dipedulikan dua kakak perempuan yang bertindak sebagai pengasuhnya, dan bercampur bibit-bibit keegoisan dua pria remaja kakak lelakinya, kemudian ditambah kehadiran dua adik sepupu perempuan yang akan menjadi sahabatnya. Dirumah dini ada dua orang pembantu. Pembantu pertama namanya Simbok, seorang perempuan tua yang dianggap sebagai anggota keluarga sendiri. Yang kedua adalah seorang wanita muda dengan anak perempuannya. Kakak sulung Dini bernama Heratih yang biasa dipanggil Pah atau Tampah oleh adik-adiknya, yang kedua bernama Nugroho yang mendapat julukan Manu Pedet, yang ketiga bernama Maryam atau genuk, kenapa dipanggil genuk? Karena sewaktu kecil tubuhnya gemuk sekali dan Ibu teringat pada tempat menyimpan air yang mengembung. Dan yang keempat itu Teguh, nama julukannya adalah Banteng Kejepit. Karena Teguh pernah diramal dan lambangnya adalah seekor Banteng. Terlihat oleh Dini sebuah gambar pohon beringin dengan seekor Banteng kejepit. Kata peramal itu suatu ketika dalam hidupnya nanti Teguh akan menemui rintangan tapi karena kegigihannya dia bisa melepaskan diri dari rintangan itu. Dan anehnya ramalan itu benar terjadi, Teguh terjepit diantara cabang pohon belimbing ketika mengambil buah belimbing untuk rujak Bibinya. Sampai akhirnya dengan terpaksa agar Teguh bisa keluar, ayah dan paman memotong satu cabang pohon belimbing yang umurnya sama dengan Heratih itu. Sejak peristiwa itulah Teguh mendapat julukan banteng kejepit. Dini bersekolah di sekolah rakyat Pendrikan Tengah. Disamping sekolahnya terdapat gedung kecil yang bernama Eka Kapti. Disanalah Dini menerima pendidikan tari dan gending. Sedangkan Heratih selesai sekolah dan mendapat pekerjaan di kantor telepon dekat alun-alun. Setiap akhir bulan setelah menerima gaji masing-masing adiknya mendapat sepuluh sen berupa lempengan logam putih, yang makin lama menjadi uang kertas bertuliskan angka lebar dan besar. Dan Akirnya Heratih menikah dengan kepala kantor telepon di Kendal yang bernama Utono,8 atau Mas Ut. Ayah Dini bekerja di Stasiun Kereta Api. Gajinya semakin hari semakin tidak mencukupi kebutuhan. Perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga Dini tapi oleh semua orang di tanah air menderita. Keadaan dan sistem sosial berjalan bersama propaganda bahwa semua orang sama derajatnya. Demi membantu perekonomian keluarga akhirnya Ibu membatik dan menerima pesanan kue. Adik Ibu Dini yang bernama Iman suhjahri (Bibi) dan suaminya (Paman) pindah dari Jawa Timur ke Semarang. Paman bukan orang terkenal namun penjajah melakukan pengawasan dari dekat terhadap semua orang yang menjadi anggota perkumpulan nasional. Mereka mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya Edi Sedyawati dan Suci Astutiwati. Edi bisa dibilang adalah sepupu yang sangat akrab dan dekat hubungannya dengan Dini. Mereka sering menonton wayang orang bersama dari malam sampai pagi hari dan kemudian didalam kamar mereka menirukan serta mengulangi gerak tarian, percakapan dan bunyi gamelan tokoh wayang orang yang mereka tonton tadi malam. Suatu hari kepala kampung mendapat perintah dari orang-orang Jepang yang berkuasa, agar penduduk menyerahkan semua barang berharga yang mereka miliki. Patung-patung dan barang besi yang menjadi hiasan kota telah diambil tentara Jepang. Semua barang itu digunakan untuk dicairkan kembali dan dijadikan senapan atau senjata perang lainya. Dengan berat hati akhirnya Ibu Dini melepaskan peniti emas dari kebaya dan dua cincin untuk diserahkan pada tentara Jepang. Kemakmuran dan kebebasan yang diharapkan rakyat ketika ditinggal penjajah Belanda hanyalah janji belaka dan keprihatian kembali datang. Suatu malam penduduk kampung berlarian dan berteriak, dari arah kampung menuju ke Padang Ilalang dibelakang rumah Dini. Semua orang di dalam rumah Dini panik dan segera mengemasi barang berharga yang tersisa, pakaian, dan makanan untuk keperluan mengungsi. Tetapi setelah Ayah Dini mendapat informasi kalau banyak orang yang tetap tinggal dirumah, akhirnya keluarga Dini pun tidak jadi mengungsi. Pemberontakan itu terjadi di kalangan pemuda PETA terhadap pemerintah Jepang. Mereka berbalik melawan guru dan pendidiknya sendiri. Tentara dan polisi Jepang tidak membedakan pemberontak dengan penduduk biasa. Semua ornag yang lewat di jalanan dan yang dicurigai ditembak mati. Siutan peluru dari segala penjuru membuat Dini dan keluarga ketakutan. Cukup dengan sedikit nasib buruk siapapun akan bisa menjadi kurban tanpa pilih-pilih. Kemudian diumumkan di radio bahwa pemberontakan sudah dapat dipadamkan. Semua keluarga selamat dan mengis bahagia bersama. Tapi bulu kudu merinding ketika melihat sungai penuh bangkai manusia yang berbau busuk, jalanan penuh mobil dan kendaraan yang rusak serta terbakar. Dini tidak akan melupakan peristiwa itu seumur hidup. Namun kehidupan terus berlangsung. Seluruh keadaan menjadi tenang dan tentram.
4. Unsur
Intristik
1.
Tema : Menceritakan tentang penjajahan pada
dahulu kala dan menceritakan keluarga yang sedang kesusahan di tengah
penjajahan.
2. Penokohan:
Dini : Gadis yang ceria, penurut
dan cerdas. Watak Dini terdapat pada
kutipan “Aku tidak pernah tidak naik kelas”.
Nugroho : Patuh terhadap orang tua, terkadang
jahil tetapi baik. Watak Nugroho terdapat pada kutipan “Ketika pada saat Ibu
atau Heratih memalingkan muka, diambilnya makanan yang belum matang, cepat-cepat dimasukkan ke dalam mulut.
Ayah :
Bijaksana, bertanggung jawab, suka menolong, tidak pernah putus asa dan rela
berkorban. Watak ayah terdapat di kutipan “Memang, Bapak selalu mempunyai
gagasan yang lain daripada yang lain”.
Ibu :
Baik hati, penyayang, bijaksana dan pemurah. Watak ibi terdapat pada kutipan
“Begitu bibi datang,pembantu segera disuruh membuat sambal rujak”
Heratih : Baik , suka menolong. Watak Heratih terdapat
pada kutipan “Heratih duduk di atas amben mencampur adonan di dalam sebuah
wadah besar dengan kedua tangannya”
Teguh : Jahil, lincah, sedikit nakal dan terkadang
jahil. Watak Teguh terdapat pada kutipan “Kalau Ibu atau Heratih tidak
melihat, dari lima buah kue yang ada di
tangannya, hanya tiga yang dihitung sambil bersuara keras, sisanya segera
menghilang ke dalam saku celana pendeknya.”
Maryam : Penurut dan baik. Watak Maryam
terdapat pada kutipan “ Maryam dan aku sendiri boleh dikatakan tidak
mengganggu”
Edi : lucu, ceria dan pintar. Watak Edi
terdapat pada kutipan “Bergantian kami menjadi tokoh yang kami jelmakan, lengkap dengan suara
gamelan dari mulut”
3.Latar
Latar
tempat : Kamar, belakang rumah,
halaman rumah,
Latar
suasana : Keceriaan, kesedihan,
ketakutan, menegangkan.
Latar
waktu : Pagi, siang, dan malam
4.
Alur
Alur yang di gunakan dalam cerita ini adalah alur
maju. Karena, dalam cerita di tampilkan perkenalan tokoh-tokoh dalam cerita
kemudaian di lanjutkan dengan penampilan masalah-masalah yang muncul hingga
penyelesaian yang mulai mereda tanpa di dalamnya di ceritakan masa lalu.
5.Sudut
Pandang
Sudut
pandang orang pertama pelaku utama.
6.
Amanat
Amanat dari novel ini yaitu “selama kau terkemuka
dalam hidup ini, ditambah dengan sikapmu sendiri yang sopan, ramah dan
sederhana, orang lain akan menghormati dan menyayangimu.”
2. Unsur Ekstrinsik:
Nilai
Moral : Rendah hati diajarkan Ayah kepada Dini. Terdapat pada
kutipan “kalau ada kawan-kawanmu di
sekolah mengejek atau memperlok-olok engkau, jangan malu. Kau boleh marah, itu
hal yang biasa. Karena kalau kau tidak marah, berarti kau tidak mempunyai rasa
harga diri.”
Nilai
Sosial : Pada saat penjajah ingin memasuki
rumah Dini, Ayah berusaha mengusir mereka “Tapi bapak tidak menyahut, ia masuk ke sepen,
cepat keluar sambil memegang sesuatu di tangannya.”
Nilai
Budaya : Membela tanah air.
Terdapat pada kutipan “ Kalau aku sudah
jadi pemuda, aku juga mau bertempur.”
Nilai
Agama : Bedug magrib berbunyi. Terdapat
pada kutipan “ Ketika bedug berbunyi, ayah dan paman
kembali.”
3. Kelemahan dan Kelebihan
Kelebihan dari novel Padang Ilalang di Belakang
Rumah yaitu penulis menggunakan bahasa yang kita pakai biasanya dan ceritanya
juga asik. Kelemahan novel adalah terlalu banyak kata-kata yang bertele-tele.
4. Kesimpulan
Novel ini layak dibaca semua kalangan-kalangan karena
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Novel ini juga menceritakan suatu
keluarga yang kesusahan di masa penjajahan. Cerita yang disajikan banyak
memberikan pelajaran bagaimana arti saudara itu, arti kebersamaan dan
kerukunan. Banyak teladan yang kita dapat ketika membaca novel ini, Seperti
sang ibu yang berusaha untuk mempertahankan keluarganya dan juga sang ayah yang
melindungi seluruh anggota keluarganya.
